SISTEM PEMILIHAN DIRUBAH TOTAL — GUS YAHYA DAN GUS KIKIN BAKAL BERSAING KETAT DI MUKTAMAR KE-35 NU

JOMBANG, CNI — Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, kian memanas. Perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU yang dirombak total membuat peluang dua nama terkuat — Gus Yahya Cholil Staquf dan Gus Kikin (KH Abdul Hakim Mahfudz) — bersaing sangat ketat. Pertarungan kini bukan lagi soal siapa paling banyak suara, melainkan siapa yang dinilai paling maslahat oleh para ulama sepuh.

MEKANISME BARU: DARI ONE MAN ONE VOTE MENJADI AHWA

Sidang pleno yang berlangsung alot hingga dini hari akhirnya memutuskan perubahan mendasar sistem pemilihan. Dalam voting tertutup yang disahkan Minggu, 30 Agustus 2026 sekitar pukul 00.39 WIB, hasilnya 401 berbanding 150 — Ketua Umum PBNU berikutnya akan dipilih melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), dewan ulama sepuh yang sebelumnya bertugas memilih Rais Aam.

Dulu: Calon diusulkan PCNU, PWNU, dan PCINU. Setelah restu Rais Aam, muktamirin memilih langsung dengan sistem one man one vote jika musyawarah mufakat gagal.

Sekarang: PCNU, PWNU, dan PCINU tetap boleh mengusulkan nama — bahkan lebih dari satu — yang kemudian diranking berdasarkan dukungan. Nama-nama teratas diserahkan kepada AHWA. Setelah mendapat restu Rais Aam, para kiai sepuh berembuk menentukan siapa paling layak menjadi Ketua Umum.

Bahasa sederhananya: Dulu adu suara, sekarang adu maslahat. Titik tekan bergeser dari jumlah dukungan menuju kemaslahatan organisasi — mengandung semangat maslahah mursalah dalam ushul fikih.

DUA KANDIDAT UTAMA: GUS YAHYA VS GUS KIKIN

Kandidat lain juga masih memiliki peluang: Gus Salam (Denanyar, cucu KH Bisri Syansuri), Gus Yusuf (API Tegalrejo), Gus Rozin (putra KH Sahal Mahfudh), serta Zulfa Mustofa. Sementara Nasaruddin Umar memilih fokus di Kementerian Agama.

KPK NU: KAWAL MUKTAMAR DARI POLITIK UANG

Di tengah dinamika ini, muncul kelompok warga nahdliyin yang menamakan diri KPK NU — bukan lembaga negara, melainkan gerakan moral sukarela. Mereka mengenakan kaos bertuliskan “KPK NU” dan mengawal Muktamar agar bebas dari politik uang, jual-beli dukungan, serta transaksi kepentingan.

Kelompok ini sempat beraksi di kompleks makam KH Abdul Wahab Chasbullah, menyerukan agar Muktamar tidak dicemari cara-cara transaksional. Isu dugaan pengondisian dan pendekatan berbau uang memang klasik dan selalu muncul dalam setiap Muktamar, termasuk 2015 dan 2021. Peringatan juga datang dari Kiai Ma’ruf Amin, Forum Ulama Nahdliyin, dan sejumlah tokoh. Namun hingga saat ini, belum ada bukti hukum yang terbukti secara resmi. Yang beredar lebih banyak berupa kekhawatiran, seruan moral, dan upaya pencegahan.

HARI INI: PENETAPAN AHWA, PEMILIHAN RAIS AAM, KETUM PBNU

Jadwal proses lanjutan hari ini, Minggu 30 Agustus 2026:

  1. Penetapan anggota AHWA
  2. Pemilihan Rais Aam
  3. Pemilihan Ketua Umum PBNU oleh AHWA

“Dua pendekar pesantren sudah saling pandang. Tidak perlu keris, tidak perlu jurus. Cukup jaringan, dukungan, senyum, dan kalkulasi. Karena sekarang yang menentukan bukan cuma siapa paling banyak dipilih — tetapi siapa akhirnya dianggap paling maslahat oleh para kiai sepuh,” tutur pengamat.

Advertisement

Postingan Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini

spot_img

Berita Terbaru