JOMBANG, CNI — Di tengah dinamika Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang kian memanas, nama KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) muncul sebagai salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan dan diharapkan. Bukan sekadar karena silsilah darahnya yang mengalir dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, melainkan karena visi, karakter, dan gagasan yang ditawarkannya dianggap paling relevan untuk membawa NU memasuki abad keduanya.
Berikut adalah alasan mendalam mengapa Gus Kikin patut menjadi pilihan utama para delegasi Muktamar:
KEMBALI KE AKAR — QANUN ASASI SEBAGAI KOMPAS ORGANISASI
Gus Kikin adalah satu-satunya tokoh yang secara tegas mengusung penghidupan kembali Qanun Asasi, dokumen asas awal NU yang disusun langsung oleh pendiri organisasi, KH Hasyim Asy’ari. Bukan kembali ke masa lalu, melainkan kembali ke kompas awal agar organisasi tidak kehilangan arah di tengah arus perubahan zaman.
“Kita tidak boleh berjalan tanpa pijakan. Qanun Asasi adalah asas yang ditulis pendiri NU. Jika kita kembali ke sana, maka setiap langkah organisasi akan selalu berada di jalur yang benar,” ujar Gus Kikin.
Ini adalah tawaran yang tidak emosional, tidak populis, tetapi sangat kokoh. Sebuah organisasi besar tidak bisa hanya dijalankan dengan kebijakan sesaat — ia butuh asas yang abadi.
KEMANDIRIAN EKONOMI — NU TIDAK BOLEH TERGANTUNG ORANG LAIN
Gagasan penguatan ekonomi warga nahdliyin yang diusung Gus Kikin adalah jawaban paling realistis atas tantangan zaman. Dengan jutaan warga yang tersebar di seluruh Indonesia, NU memiliki pasar dan kekuatan ekonomi yang belum terkelola secara optimal.
“Ekonomi itu berbasis pasar. Pasar NU itu warganya sendiri. Jika ditata dengan baik, ini akan menjadi kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Kemandirian ekonomi adalah fondasi kemandirian organisasi,” tegasnya.
Ini bukan sekadar soal uang — ini soal martabat. NU yang mandiri akan bebas menentukan sikap, tidak terikat kepentingan pihak mana pun.
KERENDAHAN HATI — DICALONKAN, BUKAN MENCANDAKAN DIRI
Gus Kikin tidak datang dengan ambisi pribadi. Ia menyatakan dengan tegas: “Saya tidak mencalonkan diri, tetapi dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur.”
Sikap ini menunjukkan bahwa ia tidak mengejar jabatan, melainkan menjawab panggilan amanah. Pemimpin yang tidak haus kekuasaan justru akan lebih berhati-hati dalam memegang kendali organisasi. Ia tidak akan melayani dirinya sendiri, melainkan melayani umat.
KARAKTER TEBUIRENG — WARISAN KESUNGGUHAN DAN KETELADANAN
Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi yang menempatkan kesungguhan, keteladanan, dan kesederhanaan di atas segalanya. Tebuireng bukan sekadar nama besar — ia adalah simbol bahwa ulama harus hadir di tengah masyarakat, tidak boleh terpisah dari realitas umat.
Pemimpin NU ke depan tidak hanya butuh kemampuan berbicara di atas podium, tetapi juga kemampuan merasakan apa yang dirasakan warganya. Gus Kikin membawa karakter itu.
VISI UNTUK ABAD KEDUA NU — TIDAK BERHENTI PADA KEBERHASILAN MASA LALU
NU telah berusia hampir satu abad. Keberhasilan di masa lalu tidak boleh membuat organisasi berpuas diri. Gus Kikin datang dengan gagasan untuk memperbarui tanpa menghilangkan akar, melangkah maju tanpa meninggalkan khittah.
“Kita harus siap menghadapi masa depan, tetapi tidak boleh melupakan dari mana kita berasal. Qanun Asasi sebagai akar, kemandirian ekonomi sebagai kekuatan — itulah bekal untuk abad kedua NU,” ungkapnya.

“Gus Kikin bukan pilihan karena silsilah, tetapi karena gagasan. Bukan karena nama besar, tetapi karena tawaran masa depan yang realistis dan berakar pada nilai-nilai luhur NU. Jika NU ingin tetap besar dan bermanfaat di abad keduanya, maka visi yang ditawarkannya adalah jalan yang paling tepat.”
(ART).


