JOMBANG, CNI — Jelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, nama KH Abdul Hakim Mahfudz — yang akrab disapa Gus Kikin — mencuat sebagai salah satu kandidat terkuat. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini maju membawa sejumlah gagasan strategis untuk memajukan organisasi memasuki abad kedua NU.
DICALONKAN PWNU JATIM, BUKAN MENCALONKAN DIRI
Gus Kikin menegaskan bahwa langkahnya masuk bursa calon Ketua Umum PBNU bukan atas kehendak sendiri, melainkan dicalonkan secara resmi oleh Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur. Sebagai cicit pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Gus Kikin menyampaikan sikapnya dengan rendah hati.
“Saya tidak mencalonkan diri, tetapi dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Keputusan akhir tetap berada di tangan para muktamirin. Semoga yang terbaik dan paling mampu memajukan NU yang terpilih,” ungkap Gus Kikin.
GAGASAN UTAMA: PENGUATAN EKONOMI SELURUH WARGA NAHDLIYIN
Salah satu gagasan utama yang diusung Gus Kikin adalah penguatan kemandirian ekonomi bagi seluruh warga nahdliyin. Ia menilai jumlah warga NU yang sangat besar merupakan potensi pasar raksasa yang selama ini belum terkelola secara optimal.
“Ekonomi itu tidak lepas dari pasar. Nah, pasarnya NU itu dengan jumlah warganya yang begitu besar. Itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi yang sangat besar apabila ditata dan dikelola dengan baik. Kekuatan ini bisa menjadi pilar kemandirian organisasi dan kesejahteraan umat,” tegasnya.
Gus Kikin menekankan bahwa penggalangan potensi ekonomi warga NU tidak hanya bertumpu pada sektor konvensional, tetapi juga harus mengadaptasi perkembangan teknologi melalui integrasi ekonomi digital.
MENGHIDUPKAN KEMBALI QANUN ASASI — DOKUMEN ASAS AWAL NU
Gagasan strategis lainnya adalah menghidupkan kembali rujukan dasar organisasi NU pada masa awal berdirinya. Gus Kikin menyebut bahwa dokumen Qanun Asasi — asas awal organisasi yang disusun oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari — telah ditemukan kembali dan sekitar tiga tahun lalu telah diterbitkan dalam bentuk buku.
“Kita kembali ke akar. Qanun Asasi yang disusun oleh KH Hasyim Asy’ari itu menjadi rujukan utama dalam menjalankan berbagai kegiatan NU ke depan. Kembali ke asas pendiri berarti kembali pada visi dan misi awal NU: menjaga ukhuwah, mengabdi pada umat, dan memajukan bangsa,” ungkap Gus Kikin.
Dokumen Qanun Asasi yang ditulis KH Hasyim Asy’ari berisi muqaddimah dan asas-asas organisasi yang menjadi pijakan berdirinya NU pada tahun 1926. Pengembalian dokumen ini sebagai rujukan utama diharapkan dapat menjaga organisasi tetap pada khittah pendiriannya.

TANGGAPAN PAKIS: KEMBALI KE Akar & KEMANDIRIAN EKONOMI — VISI YANG MENGHARAPKAN HARAPAN
Lembaga Pusat Analisa Kajian Informasi Strategis (PAKIS) menilai visi yang diusung Gus Kikin sangat relevan dan strategis bagi masa depan NU.
“Kembali ke Qanun Asasi berarti kembali pada nilai-nilai luhur para pendiri. Penguatan ekonomi berarti membangun kemandirian umat. Dua hal ini — akar yang kuat dan kaki yang berdiri tegak — adalah fondasi yang dibutuhkan NU memasuki abad keduanya. Visi ini patut didukung dan menjadi bahan pertimbangan seluruh muktamirin,” ujar Ketua Umum PAKIS, Abdurrahman Tohir.
PAKIS berharap seluruh calon pemimpin PBNU dapat menyampaikan visi yang jelas, berakar pada khittah NU, dan membawa organisasi semakin bermanfaat bagi umat maupun bangsa.
“Siapapun yang terpilih, yang terpenting adalah NU tetap menjadi rumah besar yang melindungi, memberdayakan, dan memajukan umat. Semoga Muktamar ke-35 ini melahirkan kepemimpinan yang mampu menyatukan dan menggerakkan seluruh potensi nahdliyin untuk kemaslahatan bersama,” pungkasnya.
(ART)


