BANGKALAN, CNI – Badan Pusat Statistik merilis kabar yang tampak menggembirakan: pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik angka indah itu, kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas justru sangat berbeda: harga kebutuhan pokok melonjak tajam, biaya pengangkutan naik drastis, sementara pendapatan tetap berjalan di tempat.
Harga BBM Naik Melonjak, Berimbas ke Segala Penjuru
Pukulan berat datang bersamaan kenaikan resmi harga bahan bakar minyak jenis Pertamax, kini tembus Rp 16.250 per liter—naik jauh dibanding sebelumnya. Kenaikan ini memicu reaksi berantai yang tak terelakkan: biaya angkut barang naik, harga jual ikut melambung tinggi, dan beban belanja rumah tangga makin menekan.
Tak hanya itu, harga kebutuhan pokok sehari‑hari pun ikut meroket: beras makin sulit didapat dengan harga terjangkau, minyak goreng dan telur naik bertahap namun pasti, begitu pula bahan makanan lain yang tak lepas dari dapur rakyat.
“Uang yang sama nilainya makin berkurang belanjaannya. Kalau ekonomi dikatakan tumbuh pesat, kenapa kami yang bekerja keras justru makin sulit bertahan hidup?” tanya seorang warga di Bangkalan.
Dimana Sebenarnya Hasil Kemajuan Itu Berada?
Angka pertumbuhan yang tinggi seolah hanya tertulis indah di atas lembar laporan, namun belum menyentuh kehidupan rakyat bawah. Banyak yang bertanya: jika perekonomian makin kuat, mengapa harga barang makin mahal dan kesenjangan makin terlihat nyata?

Abdurrahman Tohir, Ketua Umum LSM PAKIS, menegaskan: “Ukuran sejati kemajuan bangsa bukanlah angka‑angka indah di atas kertas, melainkan kesejahteraan yang dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Selama rakyat masih pusing memikirkan kebutuhan dasar, berarti perbaikan yang nyata belum benar‑benar terwujud.”
Masyarakat berharap kebijakan yang diambil pemerintah tidak hanya berfokus pada angka statistik, tetapi benar‑benar menjamin keterjangkauan harga dan perlindungan daya beli rakyat kecil.


