WASHINGTON, CNI – Keputusan Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal perangnya dalam upaya mengepung Iran ternyata berbuah masalah pelik bagi tentara AS.
Kapal perang AS, USS Gerald R Ford merupakan yang terbesar dan termahal di dunia. Kapal perang tersebut menjadi simbol dari kekuatan AS di laut. Kapal perang ini mampu menampung 75 persawat dan 4.600 kru. Namun, mereka dilaporkan mengalami ancaman dari dalam, yaitu di sistem perpipaan, khususnya di toilet.
Dikutip dari The Telegraph, Rabu (25/2/2026), kapal perang tersebut telah berada di laut sejak Juni. Awalnya, mereka bertugas dalam misi melalui Laut Mediterania sebelum Pentagon dan mengalihkan mereka ke Venezuela untuk membantu penangkapan Nicolas Maduro.
Kapal perang tersebut kemudian dialihkan lagi ke Teluk Persia, memonitor kondisi di Iran terkait negosiasi nuklir.
Penugasan terbaru ini dapat menambah masa tugas para pelaut tersebut hingga 11 bulan lagi. Namun, kondisi mereka dilaporkan semakin memburuk. Sistem pembuangan limbah baru yang dipinjam dari kapal pesiar sipil, yang diuji pada kapal perang telah dipasang di USS Gerald Ford.
Sistem ini bergantung pada vakum yang sensitif dan dirancang untuk menggunakan lebih sedikit air.
Seperti dilaporkan Wall Street Journal, saat penugasan di Venezuela, perbaikan telah dipanggil untuk memperbaiki toilet yang rusak. Dan karena desain vakumnya, satu kerusakan saja dapat menyebabkan semua toilet di bagian kapal tersebut kehilangan daya hisap.
Pipa-pipanya yang sempit juga terbukti tidak mencukupi untuk jumlah awak yang sangat banyak.
Dengan sekitar 650 toilet, yang dikenal di kalangan pelaut sebagai “heads”, dibagi menjadi zona independen, dan digunakan 4.600 pelaut.
Masalah ini kemudian menimbulkan kekacauan di atas kapal perang tersebut.
Seperti dilaporkan NPR, kru pemeliharaan telah bekerja selama 19 hari untuk melacak dan memperbaiki kebocoran di atas kapal.
Media tersebut mengatakan, berdasarkan email yang mereka lihat menunjukkan telah terjadi 205 kerusakan dalam waktu kurang dari empat hari.
Selain masalah struktural, kru kapal perang juga menemukan kaos dan potongan tali sepanjang empat kaki yang menyumbat sistem. Sementara bagian belakang toilet seringkali terlepas.
“Setelah sekian lama bertugas, beberapa hal mulai rusak,” ujar pensiunan marinir dan penasihat senior Pusat Studi Strategis dan Internasional, Mark Cancian itu.
“Saat pertama kali bertugas, semuanya berjalan lancar. Tetapi setelah tujuh bulan bertugas, berbagai hal mulai rusak, dan Anda harus mengatasinya,” tambahnya.
Cancian mengingat penugasan kapal perang AS sebelumnya, pendingin udara rusak.
Ia memperkirakan kapal tersebut tak akan dialihkan karena masalah perpipaan yang terjadi.
Cancian menilai, tim pemeliharaan akan dikirimkan ke kapal, yang diterbangkan ke suatu tempat di Mediterania timur.
















