BANGKALAN, CNI — Buku berjudul lengkap “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” menjadi perhatian luas di tengah masyarakat setelah judulnya beredar dan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak yang bertanya-tanya: sebenarnya apa isi buku ini? Apakah bermaksud melahirkan pemahaman atau mazhab Islam baru? Berikut pembahasan utuh dan mendalam mengenai isi serta makna buku tersebut.
Secara umum, buku ini membahas sisi keislaman, spiritualitas, karakter, serta gaya kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. Pembahasannya berupaya memaparkan bagaimana nilai-nilai ajaran Islam tercermin dalam perjalanan hidup, sikap, prinsip, dan tanggung jawab beliau sebagai seorang tokoh bangsa dan pemimpin negara. Perlu ditegaskan sejak awal: buku ini sama sekali tidak membahas atau mengajukan munculnya ajaran, pemahaman, maupun mazhab Islam baru. Istilah “Islam Ala Prabowo” yang dijadikan judul hanyalah ungkapan untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan sosok Prabowo Subianto secara khusus, bukan bermaksud membentuk pemahaman agama tersendiri yang terpisah dari khazanah keislaman umat.
Salah satu fokus utama buku ini mengangkat kehidupan spiritual dan keagamaan Prabowo. Sejumlah tulisan di dalamnya mengupas sisi tersebut dari berbagai perspektif — bagaimana nilai agama mewarnai karakter, sikap, keteguhan hati, dan prinsip yang ditunjukkan beliau dalam perjalanan hidup serta pengabdian kepada bangsa. Pembahasan kemudian diperluas ke ranah kepemimpinan, di mana nilai-nilai luhur Islam seperti perdamaian, keadilan, tanggung jawab, pengabdian, kasih sayang, dan kepedulian terhadap rakyat menjadi benang merah yang menghubungkan ajaran agama dengan praktik kepemimpinan yang dijalankan.
Buku tersebut juga mengangkat hubungan erat antara nilai keislaman dengan perjuangan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, agama tidak hanya ditempatkan sebagai tuntunan kehidupan pribadi semata, melainkan juga menjadi landasan moral dan spiritual dalam menjalankan amanah serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masyarakat luas.
Yang menarik dan patut dicatat, buku ini tidak sekadar berisi pandangan Prabowo mengenai dirinya sendiri. Di dalamnya termuat tulisan, pandangan, dan analisis dari sejumlah tokoh — meliputi tokoh agama, ulama, akademisi, serta pengamat sosial — yang masing-masing memberikan perspektif independen mereka mengenai keislaman, spiritualitas, karakter, dan kepemimpinan beliau. Karena disusun dari berbagai sudut pandang, isi buku juga mencerminkan interpretasi dan penilaian para penulisnya. Oleh karena itu, pembaca perlu cerdas membedakan antara fakta sejarah dan perjalanan hidup sosok Prabowo dengan pandangan atau penilaian yang disampaikan masing-masing kontributor.
Secara garis besar, pembahasan dalam buku ini dikelompokkan ke dalam tiga tema utama: pertama, Islam, Perdamaian, dan Keadilan; kedua, Spiritualitas dan Keteguhan Hati Prabowo Subianto; ketiga, Nilai Keislaman dan Perjuangan Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat. Ketiga kerangka ini menjadi panduan untuk memahami hubungan antara nilai-nilai ajaran Islam dengan sosok dan gaya kepemimpinan Prabowo Subianto.

TANGGAPAN LEMBAGA PAKIS
Ketua Umum Lembaga Pusat Analisa Kajian Informasi Strategis (PAKIS), Abdurrahman Tohir, menyampaikan tanggapan kritis, berimbang, dan bijaksana sebagai berikut:
Pertama, PAKIS mengapresiasi kehadiran buku ini sebagai kajian yang layak ditelaah secara utuh dan objektif. Buku ini berupaya menghubungkan nilai-nilai luhur ajaran Islam dengan karakter, kepemimpinan, dan pengabdian seorang pemimpin bangsa — hal yang sangat relevan dan penting untuk diperbincangkan di ruang publik. Namun sekaligus, PAKIS mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya dari judul semata, apalagi membuat tuduhan atau penilaian sepihak tanpa membaca dan memahami isinya secara menyeluruh.
Kedua, PAKIS menegaskan bahwa istilah “Islam Ala Prabowo” tidak boleh dimaknai sebagai pembentukan pemahaman agama baru atau mazhab tersendiri. Itu hanyalah ungkapan judul yang menggambarkan pembahasan khusus mengenai bagaimana nilai-nilai Islam tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan sosok Prabowo Subianto. Selama isi buku tetap berpijak pada nilai-nilai universal ajaran Islam yang disepakati umat, dan tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tidak sepatutnya judul tersebut dijadikan bahan polemik yang berlebihan. Di sisi lain, masyarakat juga berhak dan perlu kritis membedakan mana fakta objektif, mana pandangan penulis, dan mana penilaian subjektif yang ada di dalamnya.
Ketiga, PAKIS mengingatkan bahwa nilai keislaman dalam kepemimpinan seorang pemimpin negara sesungguhnya teruji dan terlihat dari bukti nyata: keadilan yang ditegakkan, kesejahteraan yang diupayakan, perlindungan yang diberikan kepada seluruh rakyat tanpa diskriminasi, serta pengabdian yang tulus demi kemaslahatan bersama. Nilai agama tidak hanya terlihat dari ucapan atau tulisan, tetapi lebih utama terwujud dalam kebijakan, perlakuan adil, dan keteladanan yang nyata di tengah masyarakat.
Keempat, PAKIS mengajak masyarakat untuk bijak dan berilmiah dalam menanggapi setiap karya tulis. Jangan menghakimi hanya dari judul yang beredar, apalagi menyebarkan penilaian yang belum tentu benar. Bacalah, telaahlah, dan diskusikan secara arif dan beradab. Jika ada hal yang patut dipuji, apresiasi; jika ada yang perlu dikritisi, sampaikan dengan cara yang bijaksana dan konstruktif — sebagaimana ajaran Islam sendiri mengajarkan kita untuk berdiskusi dengan cara yang paling baik dan beradab.
PAKIS berharap perbincangan mengenai buku ini menjadi sarana memperkaya wawasan keislaman kita, memperkuat budaya literasi masyarakat, serta mendorong kita semua untuk senantiasa mengaitkan nilai-nilai agama dengan kehidupan nyata — termasuk dalam urusan kepemimpinan, kenegaraan, dan pengabdian kepada rakyat.
— Abdurrahman Tohir, Ketua Umum Lembaga PAKIS
(CNI) – Cendana News Indonesia
Dipublikasikan: Minggu, 6 September 2026
CNI : Objektif & Independen


