BANGKALAN, 21 September 2026 (CNI) — Kemarau panjang yang kembali melanda Kabupaten Bangkalan menegaskan satu kenyataan: pengiriman bantuan air bersih yang diantar berulang tahun ke tahun memang meringankan penderitaan sesaat, tetapi belum menyelesaikan persoalan secara tuntas. Bantuan adalah pertolongan yang mulia, namun jika terus diulang tanpa perubahan mendasar, maka yang terjadi adalah menangani dampak, bukan memutus akar masalahnya.
I. INVENTARISASI: LANGKAH AWAL YANG WAJIB DILAKUKAN
PAKIS menilai, langkah pertama yang harus diperkuat Pemerintah Kabupaten Bangkalan adalah pemetaan dan inventarisasi menyeluruh:
- Desa-desa mana yang mengalami kekeringan ekstrem dan berulang setiap musim kemarau?
- Akar masalahnya apa: sumur mengering, sumber air permukaan menyusut, atau infrastruktur yang tidak menjangkau?
- Seberapa besar kebutuhan air bersih dan berapa lama ketersediaan air dapat bertahan tanpa pasokan tambahan?
Kita yakin Pemkab Bangkalan telah mulai melakukan pemetaan ini. Namun data tersebut harus menjadi dasar rencana jangka panjang, bukan sekadar daftar untuk penyaluran bantuan darurat.

II. BANTUAN AIR: PERTOLONGAN SESAAT, BUKAN SOLUSI TETAP
Pengiriman truk tangki air bersih adalah wujud kepedulian yang patut dihargai. Tetapi:
- Ia bergantung pada ketersediaan bahan bakar dan biaya operasional yang terus berulang
- Tidak menjamin ketersediaan air secara mandiri bagi warga
- Menjadi rutinitas yang menguras anggaran tanpa meninggalkan manfaat jangka panjang
“Membantu saat sulit itu mulia. Tetapi membangun kemandirian agar tidak terus-menerus dibantu — itu jauh lebih mulia.”
III. USULAN STRATEGI TUNTAS: SATU DESA, SATU SOLUSI, SATU PERIODE
Berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan, PAKIS mengusulkan penanganan bertahap namun pasti:
- Opsi 1: Pengeboran Sumber Air Dalam
Bagi wilayah yang geologis memungkinkan, lakukan pengeboran sumur dalam dan pembangunan menara air. Ini menjadikan desa tersebut mandiri sepanjang tahun.
- Opsi 2: Jaringan Pipa Antar-Desa
Desa yang memiliki sumber air melimpah dapat dihubungkan dengan desa tetangga yang kekurangan melalui sistem perpipaan. Kerja sama antardesa ini memperkuat ikatan sekaligus efisiensi sumber daya.
- Opsi 3: Waduk Penampungan & Penyimpanan Air Hujan
Bangun infrastruktur penampungan air hujan dan embung yang dikelola secara bersama. Air dikumpulkan saat musim hujan, disimpan, dan digunakan saat kemarau.
- Opsi 4: Skala Prioritas — Satu Hingga Dua Desa Per Tahun
Tidak perlu menunggu semua selesai sekaligus. Tetapkan prioritas: setiap tahun, selesaikan penanganan menyeluruh untuk 1–2 desa yang paling parah. Fokuskan anggaran, tenaga, dan pengawasan sampai tuntas sehingga desa tersebut tidak lagi masuk daftar bencana kekeringan di tahun berikutnya.
Dalam 5–10 tahun, Bangkalan akan memiliki daftar desa yang semakin bersih dari masalah kekeringan.
IV. APRESIASI DAN DUKUNGAN PAKIS
PAKIS menyampaikan apresiasi penuh kepada Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang telah memahami persoalan ini dan mulai mencari jalan keluar yang berkelanjutan. Kami meyakini:
- Bantuan air tetap diperlukan sebagai penyangga sementara
- Namun penanganan akar masalah harus menjadi prioritas utama
- Setiap rupiah yang diinvestasikan untuk sumber air tetap adalah investasi kehidupan warga selama puluhan tahun ke depan
“Air adalah hak hidup. Bukan amalan yang harus diminta berulang tiap tahun.”
Kami yakin, dengan ketegasan, kesabaran, dan perencanaan yang matang — desa-desa yang kini menderita kekeringan akan berdiri tegak dengan kemandirian air yang terjaga. PAKIS akan terus mengawal, mendukung, dan mengapresiasi setiap langkah nyata yang dilakukan demi kesejahteraan warga Bangkalan.
Abdurrahman Tohir
Ketua Umum LSM PAKIS
Pusat Analisa Kajian Informasi Strategis


