Babi Kepunyaan Tuan

*) – Krisogonus Kusman, Mahasiswa Filsafat pada IFTK Ledalero

Senja sore itu belum sepenuhnya tenggelam. Om Sipri berdiri terpaku di tengah kebunnya. Angin biasanya membawa kesejukan dari lembah, tapi kali ini rasanya lain. Lebih panas dan menyesakkan. Mata Om Sipri menatap tajam deretan pohon pinang yang ia tanam sejak usia dua belas tahun lalu. Kini, pohon pinang itu tergeletak tak berdaya. Semuanya berantakan. Batang-batangnya patah, rimbunnya lenyap. Daun-daun layu berserakan, dan tanah di sekitar akar terobrak-abrik oleh bekas moncong hewan buas.

Om Sipri berlutut. Tangannya menyentuh batang pinang paling tua yang tumbang. Pohon itu ditanam bersama mendiang ayahnya. Tepat sehari sebelum sang ayah jatuh sakit untuk terakhir kalinya. Pinang itu tumbuh subur. Dari panenan pertama pohon inilah, Markus, anak sulungnya, bisa berangkat kuliah ke Malang.

Bagi Om Sipri, pinang bukan sekadar komoditas. Itu adalah nyawa. Dari sanalah beras dibeli, pajak dibayar, dan uang kuliah Markus dikirim. Namun, harga pinang selalu dimainkan oleh Baba Riko. Tengkulak itu berkuasa menentukan harga sesuka hati. Petani hanya bisa menurut, takut melawan, dan pasrah pada nasib yang seolah sudah digariskan.

“Babi… sialan! Ini jelas-jelas bekas moncong mereka!” teriak Om Sipri, suaranya pecah membelah keheningan sore.

Ia menendang sisa-sisa daun pinang yang kering, lalu berlari keluar dari kebun menuju tengah kampung. Matanya memancarkan kemarahan yang jarang terlihat pada pria yang dikenal sabar dan pendiam itu.

“Puka ra’a!¹ Babi-babi siapa yang merusak tanaman saya!” teriaknya lagi, napasnya tersengal-sengal.

Pintu rumah di seberang jalan seketika terbuka. Om Binus keluar sambil mengancingkan kemeja batiknya. Sebatang rokok masih menggantung di sudut mulutnya. Wajahnya tampak lelah. Namun, kemarahan yang sama terbersit di matanya saat melihat Om Sipri.

“Ada apa teriak-teriak ini, Eja²?” tanya Om Binus pelan.

“Kau kenal babi-babi yang merusak pinangku?” Om Sipri menunjuk ke arah kebunnya dengan jari gemetar.

“Bukan cuma kau, Eja. Ubi dan cengkeh di belakang rumahku juga rata dilahap semalam. Hancur semua,” jawab Om Binus sambil menghembuskan asap rokoknya. “Bahkan pagar pembatas pun dirusak.”

Keduanya terdiam sejenak. Kemarahan mereka semakin membuncah. Babi hutan memang sering datang saat warga kampung terlelap. Namun, kerusakan kali ini terasa berbeda. Lebih ganas.

Malam itu, Om Sipri tidak bisa tidur. Ia membayangkan telepon dari Markus yang meminta uang regis. Bagaimana ia akan menjelaskan bahwa sumber penghasilan utama mereka telah tiada? Rasa cemas sebagai seorang ayah mencekam dadanya. Jika pinang mati, apakah mimpi Markus juga ikut gagal? Pikirannya kian kacau.

Keesokan harinya, keluhan warga menyebar seperti wabah. Tanaman mereka juga dibabat habis semalam. Om Sipri dan Om Binus pun berinisiatif mengumpulkan warga di halaman balai kampung. Suasana menjadi tegang. Wajah-wajah lesu dipenuhi kecemasan. Mereka merasa kehilangan segalanya.

“Kita harus bertindak!” seru Lipuh, seorang pemuda paruh baya yang dikenal vokal. Lipuh memilih untuk tidak menikah; hidupnya cuma untuk memperjuangkan keadilan bagi petani. Lebih-lebih terkait permainan harga hasil bumi oleh Baba Riko. “Selama ini kita diam. Kita dibiarkan miskin sementara mereka kaya dari keringat kita. Sekarang, bahkan babi pun berani menginjak-injak harga diri kita!”

Warga sepakat. Malam itu, mereka akan mengepung kawanan babi tersebut. Mereka bersiap dengan pakaian adat lengkap. Kepala dililit sapu³, mengenakan baju putih, dan pinggang dikat dengan lipa songke⁴. Tanpa alas kaki, mereka membawa parang dan kurung.⁵ Ibu-ibu dan anak-anak diperintahkan tinggal di rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

“Apa pun terjadi, jangan pernah menyerah!” seru Lipuh sebelum mereka melangkah memasuki kegelapan kebun.

Tanpa senter, mereka bergerak dalam sunyi. Memang mereka sudah terbiasa hidup di tengah kegelapan. Jalur ke kebun Om Sipri mereka hafal betul. Sebab, tak ada seorang pun yang tak mengenal tanah kelahirannya, kecuali ia pendatang. Lipuh memimpin aksi itu dengan langkah tegap.

Mereka perlahan mengintai dari balik semak. Di sana, di tengah reruntuhan kebun Om Sipri, terlihat sekawanan babi hutan. Namun, ada yang aneh. Babi-babi itu tidak bergerak liar seperti biasanya. Mereka tampak tenang, bahkan sedang memakan sisa-sisa ubi yang sengaja ditumpahkan. Dan yang lebih mengejutkan, ada sekelompok orang berjaga di sekitar mereka. Orang-orang itu berpakaian hijau loreng. Warnanya persis warna daun pinang hari, sambil memegang senjata laras panjang.

“Siapa mereka?” bisik Om Sipri, bingung. “Kenapa babi itu dijaga? Kenapa mereka merusak kebun jika tujuannya hanya mencari makanan?”

Lipuh mengerutkan kening, matanya menyipit mencoba menembus kegelapan. “Ini jebakan, Eja. Atau mungkin… mereka yang mengirim babi itu.”

“Ayo, serang! Usir mereka!” teriak Lipuh, tidak tahan melihat penghinaan di depan mata. Ia melompat terlebih dahulu, menerobos semak dengan parang di tangan.

Namun, reaksi para penjaga berseragam hijau itu di luar dugaan. Mereka tidak lari. Dengan sigap, mereka seketika mengangkat senjata.

DOR!

Suara tembakan meledak di tengah keheningan malam. Tubuh Lipuh terhuyung tak sadarkan diri. Dadanya berlumuran darah. Ia jatuh tak berdaya, matanya masih terbuka lebar menatap langit malam. Panik melanda warga. Beberapa pemuda mencoba melawan dengan parang, tetapi berhadapan dengan peluru sama saja dengan membunuh diri. Om Sipri dan Om Binus terluka di bagian lengan akibat serpihan peluru dan benturan keras saat terjatuh menghindari tembakan kedua.

“Lari! Selamatkan diri!” teriak Om Binus sambil menarik tangan Om Sipri.

Mereka berlari kembali ke arah kampung, napas memburu. Para penjaga berseragam hijau itu terus mengejar.

“Jangan lari!” teriak seorang penjaga. Ia melepaskan beberapa tembakan peringatan ke udara. Suaranya menggema. Sangat menakutkan. Peluru itu sengaja tidak diarahkan ke Om Sipri yang berlari di belakang Om Binus.

Dari kegelapan hutan di kejauhan, Om Sipri dan Om Binus melihat api mulai menyala. Rumah-rumah sederhana di kampung itu ternyata telah dibakar satu per satu. Jeritan ibu-ibu dan tangisan anak-anak terdengar pilu. Beberapa ibu mencoba melawan, tapi apalah daya. Setiap kali menentang, cambuk melecut di punggung mereka. Seorang ibu muda bahkan diseret dengan keji ketika menolak dicium oleh salah satu penjaga yang tertawa cabul.

Warga kampung tak berdaya melihat rumah-rumahnya dilalap api. Mau melawan, tapi tak punya kekuatan. Kalaupun ada nyali, tidak ada artinya di hadapan moncong senjata. Satu kali tembakan bisa melayangkan nyawa.

Ketika hari hampir pagi, sisa ibu-ibu dan anak-anak diusir paksa dari tempat itu.

“Jangan kembali ke sini lagi. Ingat! Kalau kembali, itu namanya cari mati,” ancam penjaga itu sambil menodongkan senjatanya pada dahi seorang ibu yang menangis histeris.

Mereka terpaksa pergi. Meski hatinya hancur, senjata terus memaksa mereka untuk meninggalkan tanah leluhur. Satu-satunya yang tersisa hanyalah diri mereka sendiri.

Di tepi hutan, Om Sipri dan Om Binus bertemu dengan ibu-ibu beserta anak-anak. Tangisan mereka menggema di angkasa.

Om Sipri duduk memeluk lutut, menangis mengingat nasib keluarganya. Ia memikirkan Markus. Bagaimana anaknya itu akan pulang nanti? Dia akan disambut oleh kampung yang telah menjadi abu. Bahkan bukan menjadi kampunnya lagi. Begitupun dengan arwah leluhur.

Tiba-tiba, Om Binus tak sengaja menyentuh sesuatu yang keras di bawah tumpukan batu besar dekat tempat Lipuh gugur tadi. Ia mengambilnya. Secarik kertas tebal, mungkin terlepas dari saku salah satu penjaga saat mereka menggulingkan Lipuh.

Om Sipri menerima kertas itu. Tangannya yang gemetar membuka lipatan kertas tersebut. Tatapannya yang semula kosong perlahan menajam. Kesedihan itu berubah menjadi amarah yang dingin dan tajam. Ia menyadari bahwa babi-babi itu hanyalah alat. Musuh sebenarnya bukanlah hewan, melainkan keserakahan manusia yang mengatasnamakan pembangunan.

Ia berdiri, meskipun kakinya masih nyeri dan lukanya perih. Ia memandang warga-warga lain yang sedang menangis putus asa.

“Mereka pikir dengan membakar rumah dan membunuh Lipuh, kami akan hilang,” kata Om Sipri pelan. Suaranya terdengar jelas di antara isak tangis. Lalu, ia membacakan isi tulisan pada kertas itu dengan lantang. “Masyarakat tak punya lahan. Semuanya milik negara!”

Semua warga terkejut. Keheningan dipenuhi tangisan.

“Mereka mau menguasai kebun kita?” tanya Om Binus.

Om Sipri melipat kertas itu rapat-rapat dan memasukkannya ke dalam lipa songke di pinggangnya. Ia menatap puing-puing kampungnya yang masih mengepul.

“Mereka mengambil tanah leluhur kita,” kata Om Sipri.

“Jangan takut. Kita menyuarakan ketidakadilan ini lewat jalur hukum saja,” balas Om Binus.

“Akankah mereka mendengar suara kita orang kecil ini?” tanya seorang ibu yang sempat diseret oleh penjaga itu.

Keterangan:

  1. Puka ra’a: Ungkapan terkejut dalam bahasa Manggarai
  2. Eja: Panggilan kearaban
  3. Sapu: Secarik kain yang biasa dipakai di kepala
  4. Lipa Songke: Kain tenun daerah Manggarai
  5. Kurung: Semacam tombak
Advertisement

Postingan Terkait 》

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini 》

spot_img

Berita Terbaru 》