BANGKALAN, CNI — Pendidikan adalah ladang harapan bangsa, bukan benteng yang tertutup dari pandangan rakyat. Ia bukan milik pejabat, bukan pula milik sekelompok orang — ia adalah titipan paling suci yang dipercayakan seluruh masyarakat kepada mereka yang memegang kendali masa depan anak-anak di Kabupaten Bangkalan.
Menyadari hal tersebut, Ketua Umum Lembaga PAKIS, Abdurrahman Tohir, menyampaikan refleksi mendalam sekaligus tegasan kritis terhadap berbagai persoalan yang mengemuka di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan.
CERMIN YANG TAK DISEMPURNAKAN
“Lembaga pendidikan yang takut dikritik, ibarat cermin yang takut dibersihkan. Ia tetap buram, tak mampu memantulkan wajah masa depan yang sesungguhnya.”
Selama ini, berbagai hal mengemuka: jabatan kepala sekolah yang lama kosong, pelayanan administrasi yang lambat dan berbelit, intervensi yang tidak pada tempatnya, hingga keraguan atas kompetensi sebagian pejabat yang mengelola urusan pendidikan. Bukan maksud menganggap semua telah berjalan keliru — namun tidak adil pula menutup mata bahwa banyak hal yang belum berjalan sebaik yang diharapkan rakyat.
Kekosongan pimpinan di sekolah bukan sekadar urusan administrasi yang tertunda. Ia adalah kepemimpinan yang hilang di tengah-tengah anak-anak yang butuh arah. Ketika jabatan kosong terlalu lama, maka yang terabaikan bukan hanya lembaran dokumen, melainkan masa depan generasi yang terkatung-katung tanpa arah yang tegas.
TANGGUNG JAWAB YANG TAK BOLEH DIALIHKAN
“Kesalahan kecil di meja pimpinan, tumbuh menjadi kerugian besar di masa depan ribuan anak. Itulah sebabnya teguran harus datang lebih cepat daripada kerusakan.”
Ditemukan pula bahwa pelayanan perizinan, pengurusan dokumen, hingga pendataan sekolah belum berjalan sepenuhnya transparan. Ada keluhan yang tertahan, ada pertanyaan yang belum dijawab, ada kekhawatiran yang disimpan dalam diam. Padahal, Dinas Pendidikan ada untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ia ada untuk menjawab keraguan, bukan menambah kebingungan.
Tidak seharusnya kepala sekolah merasa takut menjalankan tugasnya karena ada tekanan dari pihak yang tidak berwenang. Tidak seharusnya guru merasa ragu mengabdi karena sistem belum mendukung sepenuhnya. Dan tidak seharusnya rakyat bungkam melihat amanah yang dipercayakan belum dikelola sepenuhnya dengan tangan yang bersih.

PENDIDIKAN YANG TUMBUH DARI KETERBUKAAN
“Pendidikan sejati tidak takut pada kebenaran. Sebaliknya, ia justru tumbuh subur di tanah keterbukaan, di mana kritik disambut sebagai cahaya, bukan sebagai ancaman.”
Oleh karena itu, PAKIS menyampaikan tegasan ini bukan untuk meruntuhkan, melainkan untuk membangun lebih kokoh:
- Pertama, lengkapi kekosongan jabatan kepala sekolah secara transparan dan adil — jangan biarkan anak-anak menunggu pimpinan yang terlambat datang;
- Kedua, perbaiki pelayanan administrasi agar cepat, mudah, dan dapat dipertanggungjawabkan — rakyat berhak tahu bagaimana urusan mereka diselesaikan;
- Ketiga, pastikan setiap pejabat berada di tempat yang sesuai dengan kemampuan dan amanahnya — jabatan adalah kepercayaan, bukan hak milik;
- Keempat, buka ruang pengawasan dari masyarakat — kritik yang tulus adalah cermin yang membantu lembaga melihat dirinya sendiri secara jujur;
- Kelima, lindungi guru dan kepala sekolah yang jujur bekerja — jangan biarkan mereka merasa sendirian di tengah tekanan yang tidak perlu.
PENUTUP
“Yang membangun pendidikan bukan pujian yang manis, melainkan perbaikan yang terus-menerus dilakukan dengan jujur.”
Bupati, pimpinan dinas, pengawas, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat — kita semua memiliki andil di sini. Tidak ada yang merasa paling benar, dan tidak ada yang merasa tidak bersalah sepenuhnya. Namun yang terpenting bukan siapa yang salah, melainkan bagaimana kita bersama-sama memperbaikinya mulai hari ini.
Pendidikan bukan tempat berlindung dari kritik. Ia adalah tempat di mana kita belajar menjadi lebih baik — setiap hari, tanpa henti, demi anak-anak yang menaruh harapan kepada kita.
CNI — Objektif & Independen
Dipublikasikan: Kamis, 10 September 2026
(ART).


