MAKAN BERGIZI GRATIS: ANTARA HARAPAN MULIA DAN KENYATAAN YANG HARUS DIBENAHI

BANGKALAN, CNI — Program Makan Bergizi Gratis lahir dari niat yang luhur: memastikan anak bangsa tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Namun niat yang baik belum tentu menjamin hasil yang baik, jika tata kelola di bawahnya belum kokoh.

Ketua Umum Lembaga PAKIS, Abdurrahman Tohir, menyampaikan refleksi mendalam sekaligus catatan kritis atas perjalanan program ini:

“Memberi makan anak orang lain adalah amal yang paling mulia. Namun menelantarkan pengelolaannya, membiarkan keracunan berulang, dan membiarkan anggaran besar tidak terawasi — itu bukan lagi amal, melainkan kelalaian yang menanggung beban berat di hadapan rakyat dan Tuhan.

“Jika makanan yang dibagikan justru membuat sakit, maka yang diperbaiki bukanlah resep makanannya, melainkan cara kita mengelolanya. Niat yang suci tidak dapat menutupi tata kelola yang kotor.”

“Bukan pemberian yang salah, melainkan cara pemberiannya yang keliru. Memberi ikan boleh jadi lebih cepat, tetapi mengajak warga memasak sendiri di desa dan sekolah — itulah kemandirian yang sesungguhnya.”

Sampai saat ini, sejumlah fakta terus memanggil kesadaran bersama:

  • Ratusan orang di berbagai daerah — anak sekolah, santri, warga — mengalami keracunan yang diduga terkait penyajian program MBG;
  • Sistem dapur besar yang melayani ribuan porsi sekaligus dinilai rentan menurunkan kualitas dan kebersihan;
  • Banyak pelaku penyedia yang terjerat utang karena biaya persiapan tidak sebanding dengan kepastian pembayaran;
  • Data penerima yang belum presisi membuat bantuan bisa meleset dari yang paling membutuhkan.

“Angka korban bukan sekadar berita di koran. Itu adalah anak-anak yang sakit, orang tua yang cemas, dan kepercayaan rakyat yang perlahan terkikis. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membiarkan ini berulang.”

PAKIS sependapat dengan pandangan yang mengarahkan program ini lebih dekat ke warga:

  • Berbasis Sekolah & Desa — kantin sekolah yang sudah ada ditingkatkan perannya, warga desa tahu siapa yang paling membutuhkan, pengawasan berjalan dari lingkungan sendiri;
  • Lebih Dekat, Lebih Terawasi — porsi tidak terlalu besar, kualitas lebih terjamin, tidak mengganggu jam belajar;
  • Kesejahteraan Orang Tua Juga Kunci — jika orang tua sejahtera, mereka mampu menyediakan makanan bergizi sendiri. Membantu keluarga mandiri jauh lebih kokoh daripada memberi makan terus-menerus tanpa memberdayakan.

“Program ini tidak boleh gugur, tetapi juga tidak boleh berjalan menyusahkan rakyat. Yang mulia bukanlah seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, melainkan seberapa jujur dan teliti ia dikelola.”

“Makan bergizi gratis bukan hadiah dari penguasa, melainkan hak rakyat yang dikelola dengan amanah. Jika amanah itu dijaga, manfaatnya akan berlipat. Jika diabaikan, kerugiannya akan dirasakan anak-anak kita seumur hidup.”

“Semoga program ini segera dibenahi, kembali ke jalur yang benar, dan benar-benar menyejahterakan — bukan sekadar menyuburkan pihak-pihak tertentu di atas penderitaan rakyat.”

CNI — Objektif & Independen
Dipublikasikan: Jumat, 11 September 2026

Advertisement

Postingan Terkait 》

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer Minggu ini 》

spot_img

Berita Terbaru 》