JAKARTA, 1 Oktober 2026 (CNI) — Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara bendera dilaksanakan di Monumen Pancasila Sakti, Cipayung, Jakarta Timur — dengan pengibaran bendera Merah Putih setinggi tiang penuh, sehari sebelumnya dikibarkan setengah tiang sebagai bentuk penghormatan.
Peringatan ini tak lepas dari peristiwa kelam Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, yang menewaskan tujuh perwira TNI Angkatan Darat.
TUJUH PAHLAWAN REVOLUSI YANG GUGUR
Pada malam 30 September 1965, tujuh perwira diculik dan dibunuh oleh kelompok yang mengaku sebagai pasukan Cakrabirawa, dengan alasan dipanggil Presiden Soekarno — padahal tidak ada panggilan tersebut. Mereka adalah:
- Letnan Jenderal Ahmad Yani
- Mayor Jenderal R. Soeprapto
- Mayor Jenderal M.T. Haryono
- Mayor Jenderal S. Parman
- Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan
- Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
- Letnan Satu Pierre Andreas Tendean
Jenazah ketujuhnya ditemukan di Sumur Tua Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965, lalu diangkat satu per satu dari sumur sedalam 12 meter berdiameter 75 sentimeter.
KRONOLOGI SINGKAT PERISTIWA
- Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan ditembak di kediaman masing-masing.
- Soeprapto, Sutoyo, S. Parman, dan Pierre Tendean dibawa hidup ke markas di kawasan Pondok Gede, lalu dibunuh.
- Pierre Tendean sebenarnya korban salah tangkap — ia menyamar sebagai Jenderal A.H. Nasution agar atasan sesungguhnya dapat melarikan diri.
Jenderal A.H. Nasution berhasil lolos berkat kewaspadaan istrinya, Johana Sunarti Nasution, yang memberitahu adanya pasukan tak dikenal. Nasution melompati tembok rumah dan bersembunyi hingga pagi, meski pergelangan kakinya patah. Namun, putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution (5 tahun), tewas tertembak.
Rumah kediaman Nasution di Jalan Teuku Umar, Menteng, kini menjadi Museum Sasmitaloka Jenderal Besar A.H. Nasution, diresmikan Presiden SBY pada 3 Desember 2008.
PENETAPAN HARI KESAKTIAN PANCASILA
Melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967, tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila — bermakna ideologi bangsa tetap kokoh meski diuji cobaan berat.
Peristiwa ini menjadi titik balik perubahan kekuasaan: posisi Presiden Soekarno melemah, digantikan oleh Soeharto dan lahirlah Orde Baru yang berkuasa lebih dari tiga dekade.
Periode pasca-G30S juga diwarnai penangkapan, kekerasan, dan pembunuhan massal terhadap mereka yang dituduh berafiliasi dengan PKI. Perkiraan jumlah korban berkisar antara 300.000 hingga lebih dari satu juta jiwa, sebagian lainnya dipenjara tanpa proses pengadilan.
ASAL-USUL NAMA LUBANG BUAYA
Dua versi melekat pada penamaan kawasan tersebut:
- Versi pertama: Sumur tua itu dekat Sungai Sunter yang banyak dihuni buaya, sehingga wilayahnya dikenal sebagai Lubang Buaya.
- Versi kedua: Berasal dari legenda tokoh sakti Mbah Datuk Banjir yang perjalanannya tersesat di sungai tersebut, dikaitkan dengan sosok makhluk halus buaya putih penguasa sungai.
Pasca peristiwa 1965, dibangun Monumen Pancasila Sakti untuk mengenang ketujuh Pahlawan Revolusi. Pada tahun 2019, Sumur Maut Lubang Buaya resmi ditetapkan sebagai struktur cagar budaya.
Mengenang bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan menjaga agar sejarah kelam tidak terulang, dan memastikan pengorbanan para pahlawan menjadi pelajaran berharga bagi persatuan bangsa.
Penulis : Anggry
Editor : ART
CNI — Cendana News Indonesia
“Objektif & Independen”


