BANGKALAN, CNI – Banyaknya banner mantan bupati Bangkalan yang diganti di beberapa titik di kabupaten tersebut, membuat publik mengernyitkan dahi untuk memaknai arti dari slogan para ‘lora’ (generasi bani Syaichona Cholil) yang tertulis ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’ itu.
Akan tetapi beda halnya dengan ketua Pusat Analisis dan Kajian Infornasi Strategis (PAKIS) Abdurahman Tohir yang memaknai ‘tak pantas’ akan penggantian banner mantan Bupati Bangkalan yang terjerat KPK tersebut.
“Bagi kami, bukan sekadar bayar pajak/restribusinya terhadap pemerintah daerah, namun lebih pada perbincangan publik atau opini dari berbagai sudut pandang (pro dan kontra), ada beberapa masukan pada kami mempertanyakan dan memberi pandangan terkait hal tersebut,” ucapnya.
Abdurahman juga membeberkan beberapa hal yang disampaikan oleh masyarakat kepadanya, baik itu dari golongan santri ataupun aktifis di Bangkalan.
“Bahwa di pasangnya Baner tersebut dinilai oleh sebagian tokoh dan publik, di saat Bangkalan sedang ada persoalan hukum yang menimpa bupati dan beberapa pejabat tersandung kasus hukum, banner tersebut di maknai oleh mereka sebagai ucapan rasa syukur pujian pada pejabat Bangkalan yg sedang di tangkap KPK, “huyyuh.. dhulat..rassa agi jieh.. (bahasa Madura)” di tangkap oleh KPK pejabat yang korup, sebagai ekspresi dan apresiasi pada pejabat yg di tangkap KPK,” jelasnya kepada CNI, Senin (2/1/2023).
Mantan anggota komisi D DPRD Bangkalan ini juga menjelaskan beberapa poin yang lain terkait pemasangan banner tersebut, yang dirasanya disetting oleh pihak tertentu.
“Ingin dan seolah bupati dan pejabat lain yg ditangkap KPK, ini lho setelah ini tokoh tokoh yang pantas menggantikan bupati berikutnya!, Dimana dimaknai bahwa Bangkalan sedang melakukan gerakan bersih-bersih dari pejabat yg korup,” terangnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini Bangkalan sedang prihatin secara moral dan hukum terkait Bupati dan pejabat lainnya tersandung hukum (di tahan KPK),
Dan pihaknya yakin sebaiknya pemangku kebijakan Pemkab Bangkalan segera untuk mengevaluasi dan mengkaji terkait gambar gambar tersebut, dan orang-orang yang ada di gambar tersebut tidak tahu dan tidak menuju ke arah yang dimaksud dalam penjelasan diatas. (Why/Red).


