Denpasar, Bali – Masjid Al Ihsan di Sanur, Kota Denpasar, pada hari ini menjadi saksi perayaan Haul ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) yang dihadiri oleh berbagai kalangan penting serta masyarakat luas. Acara yang berlangsung dengan khidmat ini menegaskan komitmen NU terhadap kebersamaan dan keutuhan bangsa.
Hadir dalam acara ini:
Pejabat Gubernur Propinsi Bali, mewakili pemerintah daerah dalam menyambut perayaan besar ini.
Jajaran Polda Bali, menunjukkan dukungan keamanan dan ketertiban dalam perayaan.
Pangdam 9 Udayana Mayjend Muhammad Zamroni, S.I.P., M.S.I, memberikan nuansa kebanggaan militer.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, S.E., dengan sambutan yang menekankan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi.
Seluruh para pengurus Syuriah, ‘Awan, Mutasyar, dan Tanfidz, yang menjadi motor penggerak NU di tingkat lokal dan nasional.
Seluruh Banom dan lembaga Nahdlatul Ulama Propinsi Bali, termasuk Muslimat NU, Ansor, Banser, Fatayat NU, Pagar Nusa, IPNU, IPPNU, dan lembaga NU lainnya, menunjukkan kekuatan organisasi di berbagai bidang.
Masyarakat Kota Denpasar, khususnya dari Sanur dan Denpasar Timur, memberikan warna kekeluargaan dan semangat kebersamaan.
Acara dimulai dengan sambutan dari Dr. Mahmudi, M.Ag, ketua panitia, yang membahas “Kiprah Nahdlatul Ulama dari Jaman Sebelum Merdeka Hingga Berusia ke-102”, mengingatkan akan perjuangan panjang NU dalam mendukung kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Selanjutnya, KH Abdul Azis, Ketua PWNU Bali, menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan umum, dengan harapan bahwa PWNU dapat mewujudkan Institut Sains dan Teknologi NU Bali di Pura Demak, Kota Denpasar, untuk memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Acara inti adalah Pengajian Akbar yang dipimpin oleh KH Abdullah Syamsul Arifin, ketua lembaga dakwah PB NU, dengan tema “NU didukung oleh kepolisian, TNI, pemerintahan bahkan adat masyarakat sekitar”. Ia menegaskan bahwa NU telah final dengan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan UUD 1945, serta komitmen yang tidak bisa diganggu gugat lagi terhadap NKRI.
Perayaan ditutup dengan doa oleh KH Nurhadi Alhafidz, Rois Syuriah PWNU Bali, yang juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Huffadz di Kediri, Tabanan, Bali, menandai akhir dari perayaan yang penuh makna ini.
Perayaan Harlah NU ke-102 ini tidak hanya merayakan sejarah panjang organisasi, tetapi juga memperkuat pesan kedamaian, keutuhan, dan komitmen terhadap Indonesia yang beragam namun bersatu.(Jaya/Red)


